Rabu, 09 Desember 2009

Analisis Novel “BELENGGU” Karya Armijn Pane


Novel Belenggu merupakan salah satu roman klasik yang kemunculannya menimbulkan kegemparan. Bahkan sampai ditolak oleh Balai Pustaka dengan alasan isi ceritanya mengandung banyak kritik sosial dan politik yang bisa memicu konflik dalam masyarakat. 

Armijn Pane selaku penulis buku ini membuat sebuah karya yang mampu membawa pembacanya seolah masuk dalam perasaan emosional para pelakon dalam cerita. Meskipun inti dari cerita ini hanyalah sebuah cinta segitiga, namun di dalamnya ada beberapa konflik kecil yang sebenarnya mengandung makna yang sangat mendalam, terutama bagi negara Indonesia yang saat itu masih dalam suasana pascakemerdekaan.

Penggunaan gaya bahasa kuno dan masih bercampur dengan bahasa Belanda (negara yang kolonialisme di Indonesia) menambah estetika dari novel ini. Maka tak heran banyak perbendaharaan kata yang terdengar asing jika diucapkan saat ini, seperti prognose, rouge, realiteit, dll. Bagi yang tidak memahami kosakata seperti bisa dipastikan akan sulit juga untuk memahami beberapa bagian ceritanya.

Cerita ini memiliki tiga tokoh sentral, yaitu Dokter Sukartono (Tono), Sumartini (Tini), dan Siti Rohayah (Yah). Ketiganya berada dalam konflik cinta segitiga yang rumit yang dibumbui dengan masalah dan rahasia masing-masing yang semakin memperburuk keadaan.

Sukartono adalah seorang dokter yang mempunyai rasa kemanusiaan yang tinggi. Dia terkenal dokter yang dermawan dan penolong. Dia termasuk seorang yang sangat mencintai pekerjaannya. Meskipun begitu Tono tidak pernah benar-benar merasakan cinta dari istrinya selayaknya sebuah keluarga yang harmonis. Kenikmatan hidup yang bersifat privasi justru dia rasakan dari wanita lain yang bukan istrinya. 

Sumartini  perempuan modern yang mempunyai masa lalu yang kelam karena bebas bergaul. Salah satu kisahnya yang memilukan adalah hubungannya yang gagal dengan kekasihnya sebelum menikah dengan Tono.  Dia selalu merasa kesepian karena kesibukan suaminya yang tak kenal waktu dalam mengobati orang sakit sehingga melupakan dan membiarkannya dirumah seorang diri.

Siti Rohayah juga merupakan perempuan yang masa lalunya kelam akibat perceraian, namun, perbedaannya dia tidak seberuntung Sumartini dalam masalah ekonomi dan status sosial. Rohayah menjadi perempuan “malam” dan mempunyai pekerjaan sampingan sebagai penyanyi keroncong dengan nama Siti Hayati.

Beberapa konflik yang muncul bisa menimbulkan opini dalam masyarakat, bahwa apabila sebuah kehidupan rumah tangga yang lahir dibangun dari tiadanya rasa saling cinta antara suami-istri, maka keluarga tersebut tidak harmonis dan bahkan bisa terjadi perceraian. Hal inilah yang ditakutkan dalam kehidupan seseorang, manakala membangun rumah tangga tanpa didasari cinta antara suami isteri.

Dalam novel ini bisa dilihat bahwa hubungan antara Tono dan Tini bukanlah selayaknya pasangan suami istri pada umumnya. Terkesan hanya menjalani sebuah hidup dengan status sosial semata, sementara masalah hati tidak diabaikan dalam bahtera rumah tangga mereka. Sehingga Tono pun lari dalam pelukan Rohayah.

Novel ini juga mengandung kritik sosial kepada para perempuan yang masih saja memandang seseorang hanya dari status sosialnya, seperti sikap Tini saat bertemu dengan Rohayah. Selain itu sindiran juga terlihat pada bagian Tini yang sedang digosipkan oleh teman-teman wanitanya. Seolah ingin menunjukan bahwa masih banyak wanita yang hobi bergunjing.

Keunikan dari novel ini adalah adanya kritik tentang keadaan politik beberapa tahun sebelumnya. Contohnya seperti awal berdirinya Boedi Oetomo yang para anggotanya berasal dari kalangan ningrat dari suku Jawa. Secara gamblang, Armijn Pane melancarkan kritik bahwa tujuan Boedi Oetomo ketika itu bukanlah kemerdekaan secara menyeluruh, tetapi  menjaga agar budaya Jawa tidak dipengaruhi oleh budaya Belanda. Maka  secara tersirat Armijn Pane tidak menyetujui bahwa Boedi Oetomo disebut sebagai tonggak kebangkitan bangsa.

Selain itu, ada juga gambaran bahwa orang yang berjuang demi kepentingan bangsa justru tidak dianggap sebagai suatu pekerjaan yang mulia. Tetapi justru dianggap menyusahkan dan tidak berguna selama tidak menghasilkan uang. Seperti pada tokoh Hartono yang sebenarnya bukan tokoh sentral, tetapi kisahnya mengandung sebuah makna yang mendalam. Hartono yang rela meninggalkan kuliah dan kekasihnya demi perjuangannya bersama tokoh revolusioner Ir. Soekarno dan mengabdi pada bangsa justru mengalami banyak cacian dari orang-orang di sekelilingnya karena dianggap tidak menguntungkan. Karena pandangan seseorang yang sukses hanya dilihat dari materi semata.

Novel Belenggu menyimpan banyak makna yang mendalam di setiap konflik yang dimuculkan. Kritik sosial yang tajam dalam kisah ini bisa menjadi sebuah pembelajaran bagi para generasi muda dalam menjalani kehidupan yang terhegemoni oleh sebuah sistem yang menindas. Dan semua itu berlaku terhadap semua orang, baik itu tua-muda, kaya-miskin, dan juga pria-wanita.

 

 

 

 

 

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar