Selasa, 24 November 2009

Komunikasi Dalam Perspektif Islam

Komunikasi Dalam Perspektif Islam

Kemajuan barat dalam teknologi dan intelektual seolah membuat dunia ini hanya menjadi suatu tempat yang bisa dilewati hanya sekejap mata. Hal terutama dengan kekuasaan barat atas komunikasi yang bisa membawa kemanusiaan ke arah konsumerisme pasif. Pandangan masyarakat dunia pun telah membuat dunia barat, yang dimotori oleh Amerika Serikat menjadi sebuah trendsetter bagi semua perkembangan yang terjadi di dunia ini. Tak terkecuali dunia muslim yang disebut-sebut sebagai kekuatan terbesar untuk melawan Amerika Serikat setelah runtuhnya Uni Soviet. Maka akan muncul masalah jika media komunikasi barat juga telah merasuk dan mempengaruhi dunia muslim. Hal ini semakin dikuatkan dengan adanya kovergensi media melalui dunia maya yang saat ini kita lebih kenal dengan internet. Serbuan arus informasi ini seakan telah menggambarkan betapa media informasi kita sedang mengalami perang yang mahadahsyat meskipun tanpa senjata.

Konsep komunikasi antara dunia islam dan barat sendiri memiliki pandangan yang berbeda pula. Barat yang sekuler (memisahkan agama dengan kehidupan bernegara dan sosial)  tentu saja akan menggunakan konsep “kebetulan” saja manusia memang berkembang dan berkata-kata. Dan inilah yang secara “kebetulan” membedakan manusia dengan hewan dan makhluk lainnya.

Sementara dalam pandangan islam, yang dijelaskan dalam Al Qur’an, manusia memang merupakan makhluk yang paling sempurna dengan banyak anugerah kemampuan dari Allah SWT. Dan salah satu kemampuan manusia yang paling menonjol adalah berbicara.

Komunikasi pun memiliki beberapa tingkatan yang dikelompokkan dalam berbagai interaksi seperti Intrapersonal, ekstapersonal, interpersonal, dan massa. Meskipun begitu, dalam praktiknya komunikasi manusia bisa menjadi dua kategori utama.

 

Dalam islam, Al qur’an merupakan sumber panduan utama yang dilengkapi dengan Al Hadits. Qur’an meliputi seluruh aspek kehidupan manusia dan memberikan prinsip-prinsip umum untuk diterapkan pada situasi –situasi di kehidupan nyata. Dengan demikian bisa disimpulkan bahwa subjek dan audiens utama dari sumber pengetahuan ini adalah manusia. Menurut Mawdudi, dalam Towards Understanding The Qur’an, tujuan dari Qur’an adalah membawa manusia ke jalan yang benar dan menerangkan panduan tuhan yang sesungguhnya yang sudah seringkali hilang akibat kelalaian dan kebutaan manusia atau rusak akibat kejahatannya.

Dengan memfokuskan pada tema dan tujuan sentral ini, jelas bahwa tujuan dasar dari pedoman ini adalah untuk mengarahkan manusia, ciptaan tuhan yang paling mulia, untuk menjadi khalifah yang berhasil. Oleh sebab itu, Qur’an dan Hadits sangat mengutamakan pembinaan umat manusia.

Qur’an dan sunnah tidak menganggap bahwa hubungan interpersonal, yang tidak bisa terjalin tanpa komunikasi, terpisah atau seperti pengertian sekuler yang sempit dan berorientasi pada komersil modern, di mana keefektifan komunikasi memiliki tujuan yang sifatnya duniawi. Sebaliknya sumber-sumber pengetahuan terbuka memandang hubungan interpersonal sebagai aktifitas etika yang paling penting dan mengintegrasikannya dengan keseluruhan sistem hubungan manusia.

Tingkatan atau jenis komunikasi manusia yang lainnya adalah komunikasi massa. Dalam pengertian yang paling sederhana, aktifitas-aktifitas komunikasi terjadi ketika seseorang atau sekelompok orang menyampaikan pesan dengan cara yang teratur kepada banyak orang melalui alat umum yang dikenal sebagai media atau saluran. Elemen yang paling penting dalam komunikasi massa adalah komunikator, pesan, media, penerima, respon, dan gangguan.

Penggerak komunikasi massa ini adalah manusia dan yang menghadapi efeknya adalah manusia. Karena hanya manusia yang memiliki potensi untuk memepersepsikan pesan dari media massa.

Lalu apa itu media massa? Media massa merupakan alat melalui mana suatu organisasi menyampaikan pesan kepada manusia lain yang berjumlah besar.Media massa sebagai industri yang sangat menguntungkan telah menjadi suatu gaya hidup masyarakat dan memiliki pengaruh yang sangat besar dalam meninabobokan masyarakat melalui kendalinya yang sangat luar biasa. Inilah pengaruh potensial dari media terhadap sistem komunikasi massa dan arus informasi global. Maka tidak berlebihan jika dikatakan industri media barat yang sekuler merupakan    komunikasi massa yang, mengutamakan keuntungan material, hegemoni politik, serta imperialisme budaya.

Al qur’an bukan hanya mengarahkan pada jalan yang benar, tetapi juga memiliki tujuan fundamental, di mana tujuan penciptaan tetap menjadi sasaran utama. Intinya lakukanlah suatu kegiatan dengan tetap mengingat Allah SWT dan tidak merugikan orang lain.

Media barat memang sangat liberal dan menjadikan kebebasan berekspresi sebagai tameng utama dalam menjalankan kegiatannya. Sehingga nurani sudah tidak lagi menjadi suatu pertimbangan dalam menampilkan suatu produk. Dalam perspektif Qur’an kebebasan merupakan sebuah keistimewaan dan hak sejak lahir yang diberikan tuhan kepada umatNya tanpa melakukan hal-hal yang sudah melewati batasan yang merugikan. Tapi secara individu, manusia bebas berkehendak dan memilih. Tentu saja berbeda dengan pandangan yang sekuler.

Orang muslim sebenarnya belum memberikan kontribusi intelektual dan teknologi bagi sistem komunikasi modern. Sehingga banyak negara muslim yang masyarakatnya justru menjadi pengikut dari kebudayaan intelektual sekuler asing. Padahal, pedoman kita yaitu Al qur’an dan Al hadits telah bnayk memberikan solusi konkret dari semua permasalahan. Maka ini adalah tugas kita untuk mengislamkan pemikiran sekuler, salah satunya melalui media dakwah.

 

 

 

 

 

 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar