Rabu, 02 Maret 2016

Pembagian Waktu

Saya bukan sosok yang baik dalam membagi waktu. Meskipun secara teori saya memahami bagaimana menempatkan prioritas agar waktu tetap termanfaatkan dengan baik.

Seperti tulisan singkat yang saya buat saat ini.

1 jam sebelum kedai kopi milik saya buka.

Jumat, 11 September 2015

Mengenal Diri Sejak Dini



Rasanya berbagai macam quotes, psikolog, dan banyak literatur sudah mengatakan untuk mengerjakan sesuatu yang disukai. Jangan sampai menyesal di kemudian hari. Anehnya, sampai hari ini masih banyak ditemui orang yang ragu untuk mengikuti passion. Alasannya bermacam-macam, seperti bidang yang digeluti tidak keren, gajinya kecil, masa depannya tidak pasti dan beragam alasan lainnya.

Sebenarnya mencoba suatu hal yang baru  memang bagus. Namun, jangan sampai lupa kalau bidang yang kita geluti tersebut akan melekat dalam diri kita selamanya. Apa kita memang siap mengerjakan sesuatu yang tidak kita sukai seumur hidup? Rasanya jika bukan karena uang, tidak banyak orang yang aka melakukannya.

Itulah mengapa, alangkah baiknya jika kita mengenali diri kita sendiri mulai dari sekarang. Terkadang semua yang kita lakukan sejak kanak-kanak merupakan petunjuk mengenai minat dan bidang pekerjaan yang cocok untuk kita geluti. Ada beberapa tips yang bisa kita lakukan untuk mengenali diri kita sendiri :


  1. Coba ingat-ingat, pelajaran apa yang paling kita gemari saat bersekolah. Bukan yang nilainya paling tinggi, tapi apa yang membuat kita menjadi penasaran.
  2.  Hobi apa yang sejak kecil Anda gemari dari kecil hingga saat ini
  3. Jika ingat poin nomor satu dan dua, coba perhatikan sekeliling kita, apakah yang kita kerjakan berhubungan dengan yang kita sukai tersebut.
  4.  Jika sulit, psikotest bisa dijadikan pertimbangan. Hanya saja, hasil psikotest yang dijadikan acuan adalah yang bersifat deskripsi diri. Karena kalau secara numerik/angka, biasanya itu bisa berubah

Begitulah tips yang bisa dibagikan dalam tulisan ini. Meskipun bukan melalui sebuah penelitian, namun pengalaman ini bisa dijadikan acuan dalam menggeluti bidang pekerjaan yang Anda sukai. Semoga bermanfaat!  

Selasa, 08 September 2015

Mereduksi Jumlah Kendaraan

Jika ada pertanyaan kepada warga Jakarta seperti, “Bagaimana tingkat kemacetan di Jakarta saat ini?”. Sepertinya semuanya akan memberikan jawaban yang sama, yaitu “parah”. Bagaimana tidak, suatu jalan protokol yang notabene hanya membutuhkan hitungan menit bisa mencapai satu jam bahkan lebih jika sedang memasuki jam sibuk.

Rasanya pergantian gubernur sudah terjadi dalam beberapa periode, namun solusi yang diimplementasikan tidak juga memberikan pengaruh yang signifikan. Pada dasarnya ada empat faktor utama yang menjadi biang kemacetan. Faktor tersebut adalah kondisi jalan, jumlah kendaraan, kondisi angkutan umum yang ada, dan perilaku masyarakat pengguna angkutan.

Panjang jalan, perilaku masarakat dan kondisi angkutan umum bisa diubah, hanya saja memerlukan waktu dan biaya yang besar. Hal paling mungkin untuk dilakukan adalah pengurangan jumlah kendaraan. Ini merupakan salah satu cara efektif dilaksanakan melalui peraturan daerah dan law enforcement. Ketegasan gubernur DKI Jakarta diyakini mampu merealisasikan ini.

Terdapat dua cara yang bisa dilakukan. Kedua cara ini pernah dilakukan sebelumnya, namun sepertinya belum direalisasikan secara optimal. Cara-cara tersebut adalah :

  1. Menggunakan sistem ganjil genap. Cara ini pernah dikaji tapi penentangnya cukup banyak. Padahal metode ini diyakini akan mengurangi jumlah kendaraan sampai 42%. 
  2. Mengatur jadwal kerja. Pengaturan ini berdasarkan status pengguna jalan (pegawai, anak sekolah, dan wiraswasta), wilayah (jumlah penduduknya) dan kondisi pemukiman.



Memang sebelummnya perlu dilakukan survey dulu sebelum membuat Peraturan Daerah seperti itu sebagai dasar pemikiran yang kuat. Peran Kepolisian di sini sangat penting sekali sebagai optimalisasi peraturan ini. Baik itu pada saat sosialisasi atau saat peraturannya resmi berjalan agar para pelanggar lalu lintas bisa langsung ditindak. Tentu saja dengan menambah jumlah personil kepolisian yang bertugas, terutama pada jam sibuk. Sehingga peraturan daerah bisa diterapkan, karena memiliki law enforcement yang kuat.

Kamis, 06 Agustus 2015

“Menggarap” Borneo [TERIOS]


Membaca judul “Borneo Wild Adventure” di log.viva.co.id membuat pikiran saya melayang pada tahun 1993-1997 saat ikut orang tua berdinas di Balikpapan, Kalimantan Timur. Meskipun memori tersebut sudah banyak yang terlupakan, namun beberapa hal masih saya ingat. Contohnya seperti pantai Manggar, Balikpapan. Tampilan yang eksotis memang banyak ditemui di negara Indonesia. Namun, Kalimantan selalu menyimpan ciri khas tersendiri. Saya ingin sekali menuangkannnya dalam tulisan ini, namun sulit karena hanya menggunakan memori saat masih kanak-kanak. Saya cuma bisa berharap suatu saat bisa kembali untuk menikmati keindahan alami di pulau Borneo.


Sampai akhirnya saat sedang menyelami timeline di Twitter, secercah harapan muncul. Terios Seven Wonders Borneo Wild Adventure menjadi peluang saya untuk menjajaki Kalimantan lebih luas. Suatu hal yang belum sempat saya lakukan saat masih kecil. Palangkaraya, Keruing, Pulau Kaget, Amuntai, Samarinda, Kutai, dan Maratua adalah daerah-daerah yang hanya saya dengar saat pelajaran Geografi. Bahkan kota Balikpapan yang pernah saya tinggali saat kecil hanya sedikit yang bisa diingat. Namun itu menjadi suatu motivasi bagi saya untuk mencoba peruntungan ini. Meskipun begitu, berbicara alam liar di Kalimantan, tentu tidak banyak yang saya tahu, karena hidup saya saat kecil dulu lebih banyak dihabiskan di komplek rumah dan sekolah.

Baiklah, saya menyisihkan waktu saya untuk berselancar di dunia maya untuk mencari informasi mengenai tempat-tempat yang bisa saya kunjungi. Dimulai dari Palangkaraya, ibukota dari Kalimantan Tengah. Kota ini sempat ramai dibicarakan di pusat karena ada wacana pemindahan ibukota (yang entah bisa atau tidak terealisasi). Namun,kita tentu tidak akan membahasnya di sini. Kembali ke alam liar, di salah satu laman internet ada yang disebut bukit Tangkiling. Bukit yang bisa didaki dalam waktu 45 menit ini sangat menarik bagi para penggemar hiking. Kemudian bisa juga bersantai taman nasional Sebangau. Selain itu bisa sekaligus melihat-lihat satwa Orang utan di Aburetum Nyaru Menteng.

Selanjutnya adalah desa Keruing. Tidak banyak yang saya tahu tentang daerah ini, namun ada yang menyebutnya ini merupakan salah satu lokasi yang menjadi habitat asli dari orang utan. Mungkin ini baru bisa dijawab jika saya ke sana langsung.

Kemudian pulau Kaget, sebuah cagar alam di Provinsi Kalimantan Selatan. Ini merupakan daerah yang menjadi sumber pohon Rambai Padi, yang biasa dikonsumsi oleh Bekantan. Pulau Kaget juga menjadi habitat asli dari Bekantan, jika Anda tidak mengetahui bentuknya, mungkin bisa mengingat-ingat maskot berbentuk hewan berhidung panjang suatu taman bermain di bilangan Jakarta Utara. Sayangnya kondisi pulau Kaget ini cukup kritis mengingat banyak terjadi penebangan pohon.

 Bergeser sedikit ke hulu sungai selatan, ada sebuah daerah yang disebut Kandangan. Berdasarkan info yang diperoleh saat berselancar di internet, ternyata lokasi ini cukup banyak tempat wisata dan kuliner khas. Tapi jika berbicara alam liar, saya menduga destinasinya akan ke gunung batu bini dan gunung batu laki. Tempat ini sepertinya menarik dan eksotis untuk dinikmati bersama-sama. Untuk permainan, bamboo rafting sepertinya pilihan yang cukup menarik.

Masih di Kalimantan Selatan, namun bergeser ke hulu sungai utara. Kabupaten yang berjarak 190 Km (menurut salah satu website) dari Banjarmasin ini terkenal dengan perkampungan tua Alabio dan hutan Rawa. Alabio terkenal dengan itik budaya yang masih jenaka. Daerah ini dikelilingi anak-anak sungai dan rawa. Memang unik sekali, karena kita bisa menemukan pemukiman di tengah-tengah rawa. Terdengar misterius, tapi bagi para petualang tentu ini menjadi tujuan wisata yang sangat menarik.

Selanjutnya adalah Balikpapan, kota yang saya huni saat masih kecil. Saat kecil yang saya tahu adalah daerah ini banyak diisi oleh orang-orang yang bekerja di eksplorasi minyak. Sementara wisatanya, tidak banyak yang saya ketahui. Hasil temuan saya di internet, menunjukkan bahwa hutan bakau termasuk salah satu lokasi alami yang bisa dikunjungi. Tempat wisata menarik lainnya adalah penangkaran buaya di Teritip. Tentu penangkaran seperti ini akan jarang ditemui di daerah perkotaan. Tapi tidak dengan Balikpapan rupanya (sedikit geli saat menulis ini, karena tidak banyak yang saya ketahui sebagai eks penghuni).

Berikutnya bergeser ke ibukota Kalimantan Timur, yaitu Samarinda. Kota dengan jumlah penduduk terbesar di Kalimantan ini dibelah oleh sungai yang disebut Mahakam. Di Samarinda ada lokasi yag disebut Kebun Raya Samarinda yang biasa dijadikan perkemahan. Tempat ini cocok bagi wisatawan yang ingin menikmati pemandangan asli dari hutan Kalimantan. Tentu saja ini bisa jadi nominasi destinasi dari "Borneo Wild Adventure".

Kemudian memasuki daerah Kutai, tepatnya Taman Nasional Kutai. Lahan yang sering menjadi konflik kepentingan sejak zaman Hindia Belanda, dikenal dengan vegetasi hutan Mangrove dan habitat orang utan, beruang madu, dan Kancil. Suasana alam yang masih sangat alami akan semakin terasa meski sudah terdapat pemukiman di sana.

Terakhir adalah pulau yang sangat indah, yaitu Maratua. Maratua merupakan salah satu bagian dari kepulauan Derawan. Dikelingi pantai yang eksotis, snorkeling dan diving merupakan pemandangan yang sering ditemui. Tampilan yang luar biasa membuat Maratua menjadi salah satu pulau yang paling sering dikunjungi oleh para wisatawan yang ingin menikmati alam Indonesia yang masih sangat natural.

Pertanyaannya, bagaimana melewati semua medan tersebut? Apalagi jika berbicara tentang jalur yang panjang dan penuh dengan daerah yang alami. Tentu saja diperlukan sebuah transportasi yang cocok untuk menempuh track seperti itu. Rasanya tidak perlu membantah lagi jika Daihatsu New Terios merupakan transportasi yang paling cocok untuk itu. Dengan tagline “Play your wild side”, Terios menunjukkan bahwa kendaraan ini memang didesain untuk menempuh perjalanan di alam liar dengan jarak yang panjang.

Terios merupakan salah satu mobil yang hemat BBM. Jarak 12 Km cukup membutuhkan satu liter bensin saja. Sehingga, logikanya jarak jauh yang ditempuh tidak akan menimbulkan masalah meskipun jumlah SPBU minim. Kenyamanan penumpang terios yang berjumlah tujuh orang ini juga tidak diragukan karena memiliki suspensi yang nyaman dan ditambah dengan fasilitas interior dan ekseterior yang menawan.

Perjalanan Borneo Wild Adventure ini dipastikan akan menjadi suatu pengalaman yang tidak akan terlupakan. Selain menikmati pemandangan alam, kita juga akan dibuat bersyukur dengan keindahan yang diciptakan Tuhan untuk Indonesia. Apalagi jika perjalanan ini dilengkapi dengan kendaraan SUV, yaitu Daihatsu New Terios yang sangat cocok untuk dipakai berpetualang di medan yang sulit dan masih sangat alami.

Sumber Foto





Senin, 03 Agustus 2015

Penyelewengan Berita Populer

SUmber foto Seperti yang kita ketahui, belakangan ini sedang ramai pemberitaan soal kasus suap hakim. Kasus ini banyak melibatkan nama-nama tenar seperti pengacara, OC Kaligis dan gubernur Sumatera Utara, Gatot Pujo Nugroho. Pada akhirnya, 3 Agustus 2015, Gatot dan Evy Susanti ditahan oleh KPK. Evy diketahui sebagai istri muda dari Gatot. Sementara istri pertamanya bernama Sutias Handayani, yang mendampinginya dengan setia saat melaksanakan kampanye menuju Sumut 1. Kondisi ini ternyata mengundang banyak komentar "nyinyir" dari masyarakat, terutama Netizen di sosial media. Istri kedua dianggap membawa musibah bagi Gatot, sehingga seolah ada usaha menggeneralisir bahwa istri kedua seperti membawa malapetaka. Tentu saja hal ini akan menyinggung-nyinggung masalah poligami yang dikhawatirkan akan berakhir dengan debat agama. Saya bukan seseorang yang mendukung atau bercita-cita untuk poligami. Namun, jika pemberitaan seperti ini dijadikan senjata untuk menyudutkan suatu kelompok, maka ada baiknya hal ini diluruskan. Kejadian seperti ini bisa menimpa siapa saja, baik pelaku poligami maupun monogami. Jangan seolah-olah kebetulan seperti ini dibuat menjadi opini bahwa ditangkapnya Gatot merupakan azab akibat membagi hati pada dua orang wanita. Pada dasarnya suatu kejadian buruk yang menimpa tergantung dari moral manusianya. Sehingga memvonis seseorang akibat suatu hal yang tidak ada hubungannya dengan kejadian yang menimpanya akan membuat kita terlihat tidak berpendidikan. Semoga kita bisa lebih bijak lagi dalam berkomentar.

Selasa, 23 Juni 2015

Selalu Lupa

Finally blog yang gak terurus ini kembali saya isi, hehehe Agak malu juga sama blogger lain yang selalu update memberikan konten-konten yang menarik. Sementara yang saya buat di sini kebanyakan cuma curhatan dan tugas-tugas. Ya, mau gimana lagi, kadang mood dari seeorang emang bisa timbul dan tenggellam begitu saja. Sampai sekarang proyek cerpen yang dibuat sama temen aja belum rampung. Banyak sih yang meu diceritain, tapi nanti deh, yang penting ngisi dulu, hehehe. See you really soon guys..

Selasa, 13 Agustus 2013

Suka Mainstream? Apa Salahnya???

Kalau bagi para aktifis di forum-forum dunia maya mungkin sudah sering melihat adanya pertentangan dari kelompok orang yang membenci sesuatu yang bersifat mainstream. Mulai dari masalah musik, film, fashion, dan lain-lain. Upps, sebelum lebih jauh, apakah kawan-kawan sudah tahu apa itu mainstream? Okay, saya akan mengambil intisarinya saja bahwa mainstream itu semacam ikut arus. Sesuatu yang lagi ngetrend, pasaran, dan sangat umum di masyarakat. Misalnya kalau musik ya nuansa melayu, keberadaan girlband dan boyband, dan tema cinta. Kalau teknologi misalnya penggunaan blackberry messenger atau jejaring sosial yang tiap musimnya berganti (friendster to facebook, facebook to twitter, twitter to line, path, etc). Sementara film-film contohnya seperti fans-fansnya film "Habibie Ainun" atau kalau jaman dulu "Ada Apa dengan Cinta". Sementara lawannya adalah hipster. Sesuatu yang tidak umum dan selalu memiliki gaya yang berbeda. Kalau bicara musik misalnya keberadaan band-band indie. Kalau bicara fashion mungkin para penganut hipster tidak akan menggunakan pakaian seperti layaknya artis televisi. Bisa saja, yang mereka pakai adalah fashion ala 80an, 70an, atau bahkan fashion yang mereka cipatkana sendiri. Biasanya yang seperti ini akan bilang,"Ini bukan ketinggalan zaman, kita cuma ga mau aja bergaya mainstream," ujar para hipster. Hmm, fair enough.. Nah, saya melihat ada kecenderungan yang mengatakan bahwa penggemar mainstream itu kampungan, tunduk pada pasar, dan tidak memiliki idealisme. Para penganut mainstream ini sering diejek sebagai "alay" juga. Okay, mungkin sebagian dari kalian akan berkata, "wah author berarti penganut mainstream!" Bisa jadi ada kecenderungan ke sana, tapi bukan berarti saya tidak menyukai sesuatu yang berbau indie. Kalau mau bukti saya lebih suka mengumpulkan CD band-band indie daripada CD para musisi yang sudah dikenal masyarakat. Sebetulnya semua ini kan masalah selera. Jika pasar memang menginginkan suatu genre, maka terimalah. Toh pasar tidak mewajibkan semua konsumen untuk menyukai sesuatu yang ngetrend. Biasanya hal ini sangat penting di kalangan anak muda yang sedang bergairah dalam masalah idealisme. Tidak heran banyak cibiran bagi para penggemar K POP, atau kalau di Indonesia para fans Cherrybelle, Sm*sh, Coboy Junior, dan JKT 48. Pada dasarnya hal itu tidak usah terlalu dirisaukan, karena sekali lagi, selera. Ada yang bilang kalau banyak hal yang mainstream membodohi masyarakat dengan tema-tema mereka yang itu-itu saja. Hmm. sebenarnya ini adalah sesuatu yang klise, karena bagi saya semua lirik itu sama saja. Band-band indie pun kadang menyanyikan sebuah lirik yang tidak saya pahami. Ingatlah bahwa suatu industri membutuhkan output yang jelas. Jika tujuannya uang, ya itulah yang diperoleh. Jika kepuasan, maka itulah yang harus dicapai. Setahu saya para penggiat indie baik film, musik, maupun fashion tidak menargetkan sesuatu berlandaskan uang. Lalu kenapa para fanboynya malah mengeluh dan nyinyir bahwa para idolanya itu harus lebih diperhatikan? Okay, karena tulisan ini terlalu umum saya tidak akan membuat sebuah benang merah. Karena yang menentukan adalah Anda sendiri. Ingin menjadi mainstream atau hipster? Cuma ada sebuah kalimat yang mungkin bisa jadi renungan para mainstream haters : "Like mainstream, because hate mainstream is too mainstream" picture : kapanlagi.com

Rabu, 10 Juli 2013

Gangnam Style Cover (dance)?

We Make Our Dreams

Tidak disangka-sangka bahwa sebuah ilmu dan motivasi itu kadang muncul dari suatu obrolan yang tidak penting. Bahkan terkadang tidak berhubungan sama sekali. Hal ini terjadi kemarin menjelang saya tidur. Obrolan kita awalnya hanya seputar beasiswa mana yang cocok untuk kita. Jika mengambil beasiswa Dikti maka punya kewajiban untuk mengajar di daerah-daerah luar Jawa Barat. Kalau yang kita coba beasiswa dari pemerintahan, maka akan menjadi senjata makan tuan, karena dari dulu hobi kita adalah kritik pemerintah. Obrolan berlanjut sampai kesimpulan bahwa sebaiknya kita mengambil beasiswa dari perusahaan rokok, untuk menghargai jasa para perokok yang rela berkorban demi pendidikan di Indonesia. Hahaha, ekstrim tapi memang begitu adanya. Sampai akhirnya saya bertanya padanya, "waktu itu jadi masuk Bank nggak?" Dia bilang tidak. Saya cukup heran, karena sebenarnya dia sangat berpeluang menjadi account officer salah satu bank negeri melalui link dari saudaranya. Ternyata tak diduga bahwa alasannya adalah ia mempertahankan idealismenya untuk tetap berada di media. Awalnya saya ingin menyanggahnya dengan mengatakan bahwa zaman bisa saja berubah. Namun sebelum saya mengatakannya, dia sudah menyadarkan saya lebih dulu "maksudnya idealis itu, we make our dreams, not their or everyone dreams." Saat mendengarnya saya sedikit tertegun bahwa ternyata manusia seperti ini memang masih ada. Setuju atau tidak dengan jalan yang ia ambil, pada dasarnya jawabannya itu sangat meyakinkan bahwa terkadang jalan yang kita ambil memang disesuaikan dengan keinginan orang lain di sekeliling kita.

Jumat, 28 Juni 2013

PARADOKS

Jika bisa mengingat dengan benar mimpi yang kualami tentu akan lebih tergambar kisah-kisahku dengan mereka yang tidak bisa terlihat. Sayang sekali, paradoks antara kehidupan nyata dan gaib kadang sulit untuk dibedakan. Meski telah bersama selama tiga jam misalnya, beberapa saat setelahnya baru kusadari bahwa dirinya berbeda dengan kita. Seperti yang kualami bersama Luna sekitar dua tahun yang lalu. Saat berjalan-jalan di pekarangan rumah, Luna menyapaku dengan senyum manisnya yang merekah. Sebagai tuan rumah, aku melihat Luna hanya seperti seorang tetangga yang belum pernah kukenal sebelumnya. Memang agak janggal melihat seorang gadis lugu keluar di malam hari sendirian. Namun, dengan rokok semua terasa lebih mudah. Kebetulan kita memiliki selera tembakau yang sama. Satu jam pertama kita lalui dengan obrolan penuh basa-basi. “Kuliah di mana? Tinggal di mana? Sibuk apa sekarang?” uniknya obrolan itu mengalir begitu saja dan sebenarnya tidak ada satu pun yang aku ingat dengan jelas isi obrolan tersebut. Entah, memang sebenarnya tidak penting atau ada sesuatu yang menahanku untuk mengingatnya. Hal kecil yang agak janggal adalah dalam satu jam itu dia telah menyeduh tiga gelas kopi hitam. “Kebiasaan yang cukup aneh bagi seorang wanita,” pikirku. Pada jam kedua, barulah ia lebih banyak cerita. Inti dari obrolannya adalah dia minta ditemani untuk mengambil cincinnya yang lenyap saat sedang memahat sebuah patung. Aku pun menyetujuinya dengan langsung mengantarkannya dengan mobil. Sejujurnya ini agak aneh, karena pada dasarnya Luna adalah orang yang baru kukenal sekitar satu jam dan kita sudah pergi bersama. Tapi sekali lagi, aku sedang tidak bisa membedakan antara dunia mimpi dan nyata. Sampailah kita di sebuah gedung kesenian. Di sinilah akhirnya aku mulai menemukan berbagai kejanggalan. Mana mungkin kita berdua bisa melewati gedung tanpa ditanya oleh satpam yang menjaga? Kemudian bagaimana mungkin Luna memiliki kunci yang membuka semua akses ke dalam gedung? Anehnya lagi, Luna bisa dengan mudahnya mengetahui cincin itu yang ternyata ada di dalam hasil karya pahatan miliknya. “Sepertinya tertinggal saat aku sedang memahat,” ujarnya. Selepas dari gedung seni yang entah ada di mana tersebut, aku digiring oleh Luna ke sebuah rumah, sepertinya rumah kontrakan, yang tidak terlalu jauh dari gedung tersebut. Di sinilah jawaban dari semua perjalanan singkatku dengan Luna. Aku mengetuk rumah tersebut sampai dibukakan oleh seorang wanita sekitar usia 40 tahunan. Aku menyerahkan cincin tersebut dan menjelaskan banyak hal kepada wanita itu. Entah apa yang merasuki diriku, tapi yang pasti saat itu Luna sudah tidak terlihat lagi. Momen yang cukup menyentakku adalah saat wanita itu pun berkata : “Terima kasih, cincin ini sudah hilang selama 23 tahun. Ini merupakan cincin perkawinan mendiang ibuku. Cincin ini terakhir dipinjam adiknya yang paling kecil bernama Luna ketika kursus memahat. Ibu marah besar saat mengetahui cincin itu hilang dan memaksa Luna mencarinya malam itu. Sayangnya, Luna tewas dibunuh di jalan. Diduga oleh seorang perampok, karena semua barangnya tidak ditemukan bersamanya. Ibu yang merasa bersalah pun menjadi lebih pemurung sejak kejadian itu. Sampai akhirnya setahun kemudian ia menyusul Luna. Oh ya, kalau tidak salah hari ini merupakan hari ulang tahun Luna.”

Rabu, 26 Juni 2013

Panas Bumi: katanya harus maju, tapi kok....

Rabu, 26 Juni 2013 Sebagai anak yang saat ini sedang magang di perusahaan panas bumi, tidak ada salahnya kalau saya berkomentar mengenai dinamika yang terjadi saat ini. Kalau diperhatikan sekitar sebulan terakhir, disebut-sebut ada 12 wilayah kerja panas bumi yang dipegang oleh beberapa perusahaan yang statusnya mangkrak. Permasalahannya berasal dari masalah kesulitan keuangan sampai belum keluarnya izin Pinjam Pakai Kawasan Hutan (PPKH). Sedikit bocoran, saya memang sedang magang di salah satu perusahaan yang mengeksplorasi (bener ga tuh bahasanya?) di antara 12 WK tersebut. Cuma, kondisinya saat ini, di perusahaan saya aktif, sudah berbeda jauh dengan tahun lalu karena keberadaan investor baru. Lalu, mengacu pada kondisi mangkraknya 12 WK tersebut, pemerintah justru menyiapkan Peraturan Menteri (Permen) baru, yang gosipnya (ini baru gosip, jangan lagsung percaya) justru akan lebih mengakomodir para pendatang baru dan mengacuhkan pemilik izin WK lama. Tentu saja ini kontradiktif dengan keinginan dari mentri ESDM yang menginginkan agar geothermal energy tumbuh subur di bumi Indonesia. Mengapa saya bilang kontradiktif? Sebab, jika mengulang sesuatu dengan baru dan menelantarkan yang lama sama saja dengan mundur beberapa tahun. Membangun sebuah PLTP tentu tidak semudah menjual kacang rebus (jual kacang rebus saja susah, hehe). Mengakomodir perusahaan baru itu bagus, tapi apa tidak sebaiknya mendorong percepatan para pemain lama di panas bumi yang statusya jadi menggantung? Kemudian yang mengejutkan lagi adalah, demi percepatan (katanya) untuk tumbuh suburnya pemanfaatan energi panas bumi di Indonesia ada lima perusahaan yang ditunjuk untuk langsung mengembangkan energi geothermal ini. Singkatnya, langsung diberikan lahan untuk mengeksplorasi. And surprise.... ternyata semua itu adalah perusahaan asing. Okay, tujuannya (dalihnya) mungkin bagus, tapi kalau begini, kapan pengusaha lokal mau maju? Mana ada investor Indonesia yang mau menanamkan modalnya di perusahaan energi jika pada ujung-ujungnya akan dikuasai kembali oleh pihak asing? Berikutnya, di mana letak nasionalisme dari kementrian yang bersangkutan untuk terus memajukan industri-industri yang asli lahir dari Indonesia? Sedikit belajar dari masa lalu, minyak kita sudah dieksploitasi habis-habisan oleh perusahaan asing. Masa iya, Panas Bumi yang sangat melimpah di Indonesia akan kembali senasib dengan minyak bumi ? Percuma dong jargon-jargon energi terbarukan yang selalu digembar-gemborkan oleh pemerintah saat ini. Karena ujung-ujungnya tidak akan bisa menjadi sumber devisa bagi negara. foto diambil dari sini

Jumat, 21 Juni 2013

Reuni (bukan sekedar temu kangen)

21 Juni 2013 di coffee cabin, gw ikut bokap reunian bulanan sama temen2 mahasiswa angkatan 71 ITB teknik perminyakan. Ya betul, bisa dipastikan isinya kakek2 semua, hahaha. Ada yang sudah pensiun dan sekedar ngomongin cucu. Ada juga yang masih aktif bekerja. Mulai dari yang jadi pengusaha sampai caleg pun ada. Hal yang bisa dipetik di sini adalah reunian itu mungkin bukan cuma sekedar temu kangen atau bergengsi ria, tapi banyak hal yang bisa diperoleh. Mulai dari sharing ilmu bisnis, pekerjaan, bahkan urusan politik, hahahaha. Mudah2an aja gw bisa melakukan ini 20 tahun ke depan bersama kawan2 Jurnalistik Unisba 2007. Tentu saja sekalian berbagi kisah sukses

Selasa, 18 Juni 2013

Serial DIRT (2007)

Mungkin gw telat buat nulis ini, karena seperti yang kalian lihat dari judulnya saja itu sudah tahun 2007. Okay, gw ngaku kalau gw baru nonton serial ini sekitar minggu lalu. Itu pun gw baru nonton 2 episode di fx Channel. Namun, ada satu hal yang paling menarik perhatian gw adalah bagaimana sutradara Dirt (Matthew Carnahan) ini mengemas sebuah jurnalisme infotainment yang benar-benar digambarkan sebagai kuli berita yang profesional. Bukan seperti tuduhan banyak orang saat ini. Memang betul, banyak cara-cara kotor yang digunakan oleh para jurnalis infotainment untuk memperoleh berita. Namun, dengan peran dari Courteney Cox (as Lucy Spiller) menggambarkan bahwa jenis media apapun harus memiliki standar yang tinggi. Contohnya, Lucy Spiller tidak menginginkan cover dua majalahnya menggunakan efek "latah" mengikuti media lain. Salah satu kejelian dari Carnahan dalam serial ini, agar tidak membosankan, adalah peran dari Ian Hart (as Don Konkey). Don adalah seorang fotografer handal yang mengidap skizofrenia. Tentu saja ini merupakan bumbu yang menarik melihat emosi Don Konkey yang sangat tidak stabil saat penyakitnya kambuh. Namun, persahabatannya dengan Lucy menjadi suatu pemanis cerita yang membuat serial ini layak diikuti. Mungkin terllau cepat berasumsi jika hanya menonton dua episode, tapi secara keseluruhan saya yakin Dirt adalah serial yang tepat untuk saya ikuti. Mungkin saja Dirt adalah jawaban dari para penggiat infotainment terhadap para aliansi jurnalis yang merendahkan mereka. Who Knows??

Kamis, 18 April 2013

New Experience

Setelah 3 bulan tidak memiliki kegiatan rutin, akhirnya saya kembali memiliki rutinitas. Saat ini saya menjadi asisten ayah saya di sebuah perusahaan Panas Bumi (geothermal). Bagi yang masih merasa asing dengan Energi panas bumi, bisa baca di sini. Sebagian orang mungkin berpikir bahwa adalah sebuah ketidakmandirian jika terus berada di bawah bayang-bayang orang tua. Namun, belajar dari fakta yang terjadi, ternyata selama kita mampu memanfaatkan kondisi tersebut, akan lebih banyak pengalaman yang diperoleh. Sekedar berbagi, Alhamdulillah saat ini ayah saya sedang berada di level atas walaupun kondisi kesehatannya menurun jauh akibat penyakit Guillain Barre Syndrome. Namun, karena masih dipercaya, ia masih bisa melanjutkan pekerjaannya yang tertunda selama 8 bulan lebih. Dengan kondisi tersebut, tentu ayah membutuhkan bantuan dan saya pun ditawari kesempatan itu. Awalnya memang ada keraguan, apakah saya hanya akan membantu sementara atau selamanya? Ada dua hal yang membuat saya memutuskan untuk setia pada proses ini. Pertama, paman saya (salah satu anggota keluarga yang sangat saya hormati) pernah berkata bahwa yang saya alami ini memiliki nilai jutaan rupiah. Maksudnya adalah, anggaplah ini merupakan salah satu jenjang pendidikan yang harus saya lalui tanpa harus membayar seperti pendidikan formal lainnya. Kedua adalah ayah saya selalu mengingatkan bahwa manusia boleh berencana, tapi Allah juga yang menentukan. Kita harus percaya pada skenarioNya adalah yang terbaik buat umatNya. Sehingga, saya harus terus berencana sebanyak-banyaknya. Perkara terealisasi atau tidak, itu ada yang akan menentukannya. Asal kita tetap ikhtiar dan berserah diri. Dan saat ini saya masih menjalani proses hidup yang masih penuh misteri.

Selasa, 10 April 2012

Umurnya 7

Ulang tahun ke 7 memang tidak akan pernah dilupakan oleh Patrick. Ya, itu adalah hari terakhirnya Pat, begitu biasanya ia disapa, melihat keluarganya. Memang tidak ada yang pernah menyangka kalau gerombolan perampok itu tega menghabisi keluarganya tepat saat hari ulang tahunnya, 13 Maret hari Jum'at. Hingga saat ini Pat masih bisa merasakan hunusan pisau yang mengarah ke Jantungnya. Padahal kejadian tersebut sudah dilaluinya selama 24 tahun. Hal terburuk yang terjadi padanya sekarang adalah dirinya seperti dikutuk untuk terus melihat pembunuhan yang terjadi tiap harinya. Namun, yang ia lihat hanyalah anak-anak saja. Pat mengatakan padaku, yang dia ingat 24 tahun yang lalu itu adalah memang dirinya suka melihat foto-foto kecelakaan, bayi yang dibunuh, dan mayat-mayat korban pembunuhan. Namun, yang dia tidak ingat adalah, apa yang dia ucapkan saat meniup lilin ulang tahunnya. Pat merasa mengatakan sesuatu yang buruk sesaat sebelum lilin ditiup. Seandainya Pat ingat, mungkin dirinya bisa berkumpul lagi bersama keluarganya di alam sana. itulah mengapa saat ini dia sedang memaksaku untuk membuat Mesin Waktu untuk kembali ke 24 tahun yang lalu. "Tolonglah Pat, aku hanya wartawan," imbuhku menjelaskan.

The Magic of Sundanese Arts

Indonesia's cultural diversity is something that cannot be denied its existence. It’s caused by a number of islands in Indonesia. Can you imagine? There are 200 million people who spread in those islands. No wonder, if Indonesia have so many ethnics. For the example, Javanese, Sundanese, Batak, Chinese, et cetera. Next, I will tell some story about one of them, which is Sundanese ethnic. Sunda is the cultural community who mostly live in West Java. But nowadays, they spread into whole world. So don’t be confused if we met sundanese people in Arab, England, China, Taiwan, or Hong Kong. For you information, sunda has some arts. But this paper will not explain all of it. This paper only explain about three of them, Jaipong Dance, Angklung, and Wayang Golek. Jaipong dance is one of famous sundanese culture. The dance was created by Gugum Gumbira, based on traditional Sundanese Ketuk Tilu music and Pencak Silat movements. Gugum Gumbira is a Sundanese composer, orchestra leader, choreographer, and entrepreneur from Bandung, Indonesia. The name jaipongan came from people mimicking of the sounds created by some of the drums in the ensemble. Audiences were often heard shouting jaipong after specific sections of rhythmic music were played. Jaipongan debuted in 1974 when Gugum Gumbira and his gamelan and dancers first performed in public. The Angklung is a musical instrument made of two bamboo tubes attached to a bamboo frame. The tubes are carved to have a resonant pitch when struck and are tuned to octaves. The base of the frame is held in one hand, whilst the other hand shakes the instrument rapidly. This causes a repeating note to sound. Each of three or more performers in an angklung ensemble play just one note or more, but altogether complete melodies are produced. The Angklung is popular throughout Southeast Asia. Wayang Golek is a traditional Indonesian puppet play carried out with rod puppets. The puppet bodies are carved from wood. Indonesian Arts Network gets antique Wayang Golek puppets directly from real Dalangs (puppeteers). Little is known for certain about the history of wayang golek, but scholars have speculated that it most likely originated in China and arrived in Java sometime in the 17th century. At first, wayang golek is very traditionally performance art. But nowadays, wayang golek has follow the times. As an Indonesian people, we must preserve Indonesian culture. Indonesian culture is a precious heritage from the ancestor which differ Indonesia among all nation in the world. The basic thing that we should do is try as much as possible to blend Indonesian culture in our daily life, proud being Indonesian and make the culture as the way to show Indonesia as a charming nation in the whole world. Disadur dari berbagai sumber. Beberapa diantaranya itu merupakan copy paste.

Senin, 09 April 2012

Apaan sih Aerobik itu?

Indonesia memang negara yang sering mengalami pergeseran makna dari suatu kegiatan (subjektif). Contohnya seperti aerobik. Olahraga ini sering sekali diidentikkan ibu-ibu saja. padahal sah-sah saja semua jenis kelamin mengambil olahraga ini. Mau cowok, cewek, banci sekalipun juga boleh. Dikutip dari spiritfitnesscenter.blogspot.com Aerobik merupakan gabungan gerakan-gerakan yang energik dan selalu kreatif, gerakannya selalu berubah-berubah tidak dominan hanya pada gerakan saja. Aerobik sendiri beriramakan cepat dengan gerakan dasar kaki jalan-loncat sesuai dengan fungsi senam aerobik itu sendiri. Untuk kebugaran tubuh, latihan aerobik memberi banyak sekali manfaat bagi tubuh Anda, antara lain meningkatkan daya tahan jantung, paru-paru, menguatkan otot-otot tubuh, kelenturan, membakar kalori tentunya, dan lain-lain. Baru-baru ini satu lagi ditemukan manfaat dari aerobik bagi kesehatan Anda, yaitu hanya dengan latihan aerobik gerakan sedang selama 3 jam dalam seminggu mampu menurunkan tingkat depresi hingga 50%. Okay, jadi saya sarankan, mulai sekarang tinggalkan paradigma bahwa aerobik hanya untuk ibu-ibu. Toh ini memang baik untuk kesehatan kan? Banyak kok aktifitas aerobik yang dilakukan di beberapa kota, terutama pada hari minggu.

Cantik, Jalang, Hantu. Mau?

Fran pernah berkata padaku "saya juga nggak mau jadi pelacur, tapi paman Zivo memaksa!" ucapnya dengan jujur. Begitulah kisah Fran, hantu cantik yang sesekali menemuiku sebelum tidur. Terkadang sifat-sifatnya yang biasa kita sebut "jalang memang belum bisa hilang. Contohnya mengajakku bercinta. Tentu saja bukan uang yang ia minta, tapi nyawaku. Kalau Fran berjalan-jalan di dunia manusia, mungkin tidak ada yang menyadari bahwa dirinya adalah makhluk halus. Penampakannya bersih dan cantik. Sungguh bertolak belakang dengan kisah hidupnya. Fran tewas saat bercinta dengan 2 pria yang membayarnya untuk "bermain" selama 10 jam non stop. Tidak perlu dibayangkan bagaimana prosesnya yang jelas itu mengerikan. Fran sampai saat ini tidak mengerti kenapa dirinya masih bergentayangan di dunia ini. Kalau ditanya urusan ia sendiri tidak tahu urusan apa yang belum diselesaikan olehnya. Keluarganya pun sepertinya sudah melupakan dia. Wajar saja, Fran sudah dijual sejak usia 4 tahun. Hmm, ya walaupun sering muncul, setidaknya Fran tidak pernah mengejutkanku. Biasanya ia memanggil dulu dan kalau aku mengangguk barulah dia muncul. Biasanya di kursi sebelah kanan yang ada di depan kasur kamarku. Mau bertemu? Entahlah, dia tidak pernah memberitahukan caranya. Coba saja panggil saat di kasur, kalau Anda beruntung mungkin ia datang.

Selasa, 29 November 2011

Berjuang Tanpa Anarkisme

“seratus orang tak berpendidikan akan menimbulkan pemberontakan, satu orang berpendidikan merupakan awal dari munculnya suatu gerakan”(Chico Mendes)
Masih segar dalam ingatan pemberitaan media-media beberapa waktu lalu yang menonjolkan suatu tindak anarkisme yang dilakukan oleh demonstran mahasiswa dan aparat keamanan. Mahasiswa yang merasa tuntutannya tidak diperhatikan oleh pemerintah membuat sebuah “gebrakan” dengan merusak beberapa fasilitas kampus dan juga public. Di sisi lain, aparat yang seolah-olah tidak mau terlihat lemah di hadapan masyarakat pun membuat serangan balik yang tidak kalah brutal, dan terkdang menggunakan senjata api. Seolah-olah kedua kubu ini adalah kelompok haus kemenangan dan krisis eksistensi. Dalam keadaan seperti itu, tidak heran jika muncul beberapa stereotype bahwa mahasiswa yang melakukan demonstrasi adalah perusak yang membuat suasana kota menjadi tidak kondusif, dan aparat adalah sekumpulan orang bersenjata yang hobi melakukan tindak brutal atas nama keamanan. Padahal jika ditilik lebih dalam, mahasiswa membawa beberapa tuntutan untuk direalisasikan oleh pemerintah yang berguna untuk rakyat. Sementara aparat memilik tugas mulia untuk mengamankan warga, kota, dan juga Negara. Lalu, apakah memang harus anarkis? Tidak juga. Jika kita kembali ke tahun 1980an di Negara Brazil. Maka kita akan mengenal sosok Chico Mendes, seorang aktivis lingkungan hidup. Mendes berusaha mempertahankan eksistensi dari hutan karet sebagai ladang untuk mempertahankan hidup para warga Chacoeira yang bekerja sebagai penyadap getah karet. Perjuangan yang dipimpin oleh Chico Mendes itu berhasil tanpa perlu ada pengangkatan senjata. Justru peredaman yang dilakukan oleh aparat keamanan ketika itu menimbulkan kritik social yang sangat tajam dari belahan dunia. Chico Mendes telah membuktikan kata-kata adalah senjata. Karena dengan pidatonya tersebut telah membuat pemerintah Brazil untuk menghentikan proyek pembuatan jalannya yang akan memusnahkan sebagian hutan tropis dan terutama pohon-pohon karet di wilayah Chacoeira. Memang sebuah pergerakan merupakan cara yang sangat ampuh dalam menuntut sesuatu. Tentu saja bukan sebuah pergerakan individual, tetapi dengan berorganisasi. Karena satu orang tidak akan cukup untuk melakukan perubahan. Namun bukan berarti dengan kuantitas, akan menghasilkan sesuatu yangt baik. Di dalamnya diperlukan sebuah pendidikan yang menjadi landasan dari pergerakan yang diyakini benar. Jika kita melihat bentuk-bentuk perjuangan yang dilakukan Chico Mendes, menyuarkan pendapat tanpa mengangkat senjata tanpa harus bentrok berhasil membuat sebuah perubahan. Bagaiman dengan pergerakan akhir-akhir ini? Banyak para demonstran yang justru menggunakan kuantitas mereka untuk melakukan hal-hal yang tidak simpatik. Sakan-akan untuk menunjukan eksistensi mereka dalam sebuah pergerakan masyarakat. Namun apa yang terjadi? Pergerakan justru dicap negative dengan adanya beberapa opini public yang memarjinalkan para demonstran. Akibatnya, meski aksi mereka mendapat perhatian, namun tuntutan mereka tidak sampai intinya, karena tertutup oleh aksi anarkis. Tidak ada yang salah dengan pergerakan. Pergerakan muncul dari nurani masyarakat jika terjadi ketidakadilan social dan juga kebijakan yang merugikan. Hal yang salah adalah jika pergerakan dijadikan ajang eksistensi suatu kelompok. Karena hal tersebut akan menodai pergerakan yag murni. Chico Mendes telah menunjukan bahwa kuantitas orang ditambah pendidikan akan menghasilkan pergerakan yang berkualitas. Inspirasi : Film Burning Season

Jumat, 18 Februari 2011

Film Hollywood Cabut Dari Indonesia??


TEMPO Interaktif, Jakarta - Mulai hari ini (18/2), tidak ada lagi film-film impor baik Hollywood maupun non-Hollywood yang beredar di bioskop-bioskop di Indonesia. Pasalnya, Motion Picture Association of America (MPAA) dan Ikatan Perusahaan Film Impor Indonesia (Ikapifi) memprotes kebijakan Direktorat Jenderal Bea Cukai yang menerapkan bea masuk atas hak distribusi film impor. sumber

baiklah, sekali lagi kebrutalan dari para lembaga pemerintahan kembali ditunjukkan. saya sebenarnya sudah tidak peduli terhadap dampak2 yang bisa terjadi akibat dari semua regulasi yang dikeluarkan oleh pemerintah. Namun, yang sangat tidak saya duga adalah ketika hiburan pun menjadi korbannya.

hmm, apakah pemerintah akan menjelaskan masalah ini, hmm, paling juga cuma angin lalu