Jumat, 21 Juni 2013
Reuni (bukan sekedar temu kangen)
21 Juni 2013 di coffee cabin, gw ikut bokap reunian bulanan sama temen2 mahasiswa angkatan 71 ITB teknik perminyakan. Ya betul, bisa dipastikan isinya kakek2 semua, hahaha. Ada yang sudah pensiun dan sekedar ngomongin cucu. Ada juga yang masih aktif bekerja. Mulai dari yang jadi pengusaha sampai caleg pun ada. Hal yang bisa dipetik di sini adalah reunian itu mungkin bukan cuma sekedar temu kangen atau bergengsi ria, tapi banyak hal yang bisa diperoleh. Mulai dari sharing ilmu bisnis, pekerjaan, bahkan urusan politik, hahahaha. Mudah2an aja gw bisa melakukan ini 20 tahun ke depan bersama kawan2 Jurnalistik Unisba 2007. Tentu saja sekalian berbagi kisah sukses
Selasa, 18 Juni 2013
Serial DIRT (2007)
Mungkin gw telat buat nulis ini, karena seperti yang kalian lihat dari judulnya saja itu sudah tahun 2007. Okay, gw ngaku kalau gw baru nonton serial ini sekitar minggu lalu. Itu pun gw baru nonton 2 episode di fx Channel. Namun, ada satu hal yang paling menarik perhatian gw adalah bagaimana sutradara Dirt (Matthew Carnahan) ini mengemas sebuah jurnalisme infotainment yang benar-benar digambarkan sebagai kuli berita yang profesional. Bukan seperti tuduhan banyak orang saat ini. Memang betul, banyak cara-cara kotor yang digunakan oleh para jurnalis infotainment untuk memperoleh berita. Namun, dengan peran dari Courteney Cox (as Lucy Spiller) menggambarkan bahwa jenis media apapun harus memiliki standar yang tinggi. Contohnya, Lucy Spiller tidak menginginkan cover dua majalahnya menggunakan efek "latah" mengikuti media lain.
Salah satu kejelian dari Carnahan dalam serial ini, agar tidak membosankan, adalah peran dari Ian Hart (as Don Konkey). Don adalah seorang fotografer handal yang mengidap skizofrenia. Tentu saja ini merupakan bumbu yang menarik melihat emosi Don Konkey yang sangat tidak stabil saat penyakitnya kambuh. Namun, persahabatannya dengan Lucy menjadi suatu pemanis cerita yang membuat serial ini layak diikuti.
Mungkin terllau cepat berasumsi jika hanya menonton dua episode, tapi secara keseluruhan saya yakin Dirt adalah serial yang tepat untuk saya ikuti. Mungkin saja Dirt adalah jawaban dari para penggiat infotainment terhadap para aliansi jurnalis yang merendahkan mereka. Who Knows??
Kamis, 18 April 2013
New Experience
Setelah 3 bulan tidak memiliki kegiatan rutin, akhirnya saya kembali memiliki rutinitas. Saat ini saya menjadi asisten ayah saya di sebuah perusahaan Panas Bumi (geothermal). Bagi yang masih merasa asing dengan Energi panas bumi, bisa baca di sini.
Sebagian orang mungkin berpikir bahwa adalah sebuah ketidakmandirian jika terus berada di bawah bayang-bayang orang tua. Namun, belajar dari fakta yang terjadi, ternyata selama kita mampu memanfaatkan kondisi tersebut, akan lebih banyak pengalaman yang diperoleh. Sekedar berbagi, Alhamdulillah saat ini ayah saya sedang berada di level atas walaupun kondisi kesehatannya menurun jauh akibat penyakit Guillain Barre Syndrome. Namun, karena masih dipercaya, ia masih bisa melanjutkan pekerjaannya yang tertunda selama 8 bulan lebih. Dengan kondisi tersebut, tentu ayah membutuhkan bantuan dan saya pun ditawari kesempatan itu.
Awalnya memang ada keraguan, apakah saya hanya akan membantu sementara atau selamanya? Ada dua hal yang membuat saya memutuskan untuk setia pada proses ini. Pertama, paman saya (salah satu anggota keluarga yang sangat saya hormati) pernah berkata bahwa yang saya alami ini memiliki nilai jutaan rupiah. Maksudnya adalah, anggaplah ini merupakan salah satu jenjang pendidikan yang harus saya lalui tanpa harus membayar seperti pendidikan formal lainnya. Kedua adalah ayah saya selalu mengingatkan bahwa manusia boleh berencana, tapi Allah juga yang menentukan. Kita harus percaya pada skenarioNya adalah yang terbaik buat umatNya. Sehingga, saya harus terus berencana sebanyak-banyaknya. Perkara terealisasi atau tidak, itu ada yang akan menentukannya. Asal kita tetap ikhtiar dan berserah diri.
Dan saat ini saya masih menjalani proses hidup yang masih penuh misteri.
Selasa, 10 April 2012
Umurnya 7
Ulang tahun ke 7 memang tidak akan pernah dilupakan oleh Patrick. Ya, itu adalah hari terakhirnya Pat, begitu biasanya ia disapa, melihat keluarganya. Memang tidak ada yang pernah menyangka kalau gerombolan perampok itu tega menghabisi keluarganya tepat saat hari ulang tahunnya, 13 Maret hari Jum'at.
Hingga saat ini Pat masih bisa merasakan hunusan pisau yang mengarah ke Jantungnya. Padahal kejadian tersebut sudah dilaluinya selama 24 tahun. Hal terburuk yang terjadi padanya sekarang adalah dirinya seperti dikutuk untuk terus melihat pembunuhan yang terjadi tiap harinya. Namun, yang ia lihat hanyalah anak-anak saja.
Pat mengatakan padaku, yang dia ingat 24 tahun yang lalu itu adalah memang dirinya suka melihat foto-foto kecelakaan, bayi yang dibunuh, dan mayat-mayat korban pembunuhan. Namun, yang dia tidak ingat adalah, apa yang dia ucapkan saat meniup lilin ulang tahunnya. Pat merasa mengatakan sesuatu yang buruk sesaat sebelum lilin ditiup.
Seandainya Pat ingat, mungkin dirinya bisa berkumpul lagi bersama keluarganya di alam sana. itulah mengapa saat ini dia sedang memaksaku untuk membuat Mesin Waktu untuk kembali ke 24 tahun yang lalu. "Tolonglah Pat, aku hanya wartawan," imbuhku menjelaskan.
The Magic of Sundanese Arts
Indonesia's cultural diversity is something that cannot be denied its existence. It’s caused by a number of islands in Indonesia. Can you imagine? There are 200 million people who spread in those islands. No wonder, if Indonesia have so many ethnics. For the example, Javanese, Sundanese, Batak, Chinese, et cetera. Next, I will tell some story about one of them, which is Sundanese ethnic.
Sunda is the cultural community who mostly live in West Java. But nowadays, they spread into whole world. So don’t be confused if we met sundanese people in Arab, England, China, Taiwan, or Hong Kong. For you information, sunda has some arts. But this paper will not explain all of it. This paper only explain about three of them, Jaipong Dance, Angklung, and Wayang Golek.
Jaipong dance is one of famous sundanese culture. The dance was created by Gugum Gumbira, based on traditional Sundanese Ketuk Tilu music and Pencak Silat movements. Gugum Gumbira is a Sundanese composer, orchestra leader, choreographer, and entrepreneur from Bandung, Indonesia. The name jaipongan came from people mimicking of the sounds created by some of the drums in the ensemble. Audiences were often heard shouting jaipong after specific sections of rhythmic music were played. Jaipongan debuted in 1974 when Gugum Gumbira and his gamelan and dancers first performed in public.
The Angklung is a musical instrument made of two bamboo tubes attached to a bamboo frame. The tubes are carved to have a resonant pitch when struck and are tuned to octaves. The base of the frame is held in one hand, whilst the other hand shakes the instrument rapidly. This causes a repeating note to sound. Each of three or more performers in an angklung ensemble play just one note or more, but altogether complete melodies are produced. The Angklung is popular throughout Southeast Asia.
Wayang Golek is a traditional Indonesian puppet play carried out with rod puppets. The puppet bodies are carved from wood. Indonesian Arts Network gets antique Wayang Golek puppets directly from real Dalangs (puppeteers). Little is known for certain about the history of wayang golek, but scholars have speculated that it most likely originated in China and arrived in Java sometime in the 17th century. At first, wayang golek is very traditionally performance art. But nowadays, wayang golek has follow the times.
As an Indonesian people, we must preserve Indonesian culture. Indonesian culture is a precious heritage from the ancestor which differ Indonesia among all nation in the world. The basic thing that we should do is try as much as possible to blend Indonesian culture in our daily life, proud being Indonesian and make the culture as the way to show Indonesia as a charming nation in the whole world.
Disadur dari berbagai sumber. Beberapa diantaranya itu merupakan copy paste.
Senin, 09 April 2012
Apaan sih Aerobik itu?
Indonesia memang negara yang sering mengalami pergeseran makna dari suatu kegiatan (subjektif). Contohnya seperti aerobik. Olahraga ini sering sekali diidentikkan ibu-ibu saja. padahal sah-sah saja semua jenis kelamin mengambil olahraga ini. Mau cowok, cewek, banci sekalipun juga boleh.
Dikutip dari spiritfitnesscenter.blogspot.com Aerobik merupakan gabungan gerakan-gerakan yang energik dan selalu kreatif, gerakannya selalu berubah-berubah tidak dominan hanya pada gerakan saja. Aerobik sendiri beriramakan cepat dengan gerakan dasar kaki jalan-loncat sesuai dengan fungsi senam aerobik itu sendiri. Untuk kebugaran tubuh, latihan aerobik memberi banyak sekali manfaat bagi tubuh Anda, antara lain meningkatkan daya tahan jantung, paru-paru, menguatkan otot-otot tubuh, kelenturan, membakar kalori tentunya, dan lain-lain. Baru-baru ini satu lagi ditemukan manfaat dari aerobik bagi kesehatan Anda, yaitu hanya dengan latihan aerobik gerakan sedang selama 3 jam dalam seminggu mampu menurunkan tingkat depresi hingga 50%.
Okay, jadi saya sarankan, mulai sekarang tinggalkan paradigma bahwa aerobik hanya untuk ibu-ibu. Toh ini memang baik untuk kesehatan kan? Banyak kok aktifitas aerobik yang dilakukan di beberapa kota, terutama pada hari minggu.
Cantik, Jalang, Hantu. Mau?
Fran pernah berkata padaku "saya juga nggak mau jadi pelacur, tapi paman Zivo memaksa!" ucapnya dengan jujur. Begitulah kisah Fran, hantu cantik yang sesekali menemuiku sebelum tidur. Terkadang sifat-sifatnya yang biasa kita sebut "jalang memang belum bisa hilang. Contohnya mengajakku bercinta. Tentu saja bukan uang yang ia minta, tapi nyawaku.
Kalau Fran berjalan-jalan di dunia manusia, mungkin tidak ada yang menyadari bahwa dirinya adalah makhluk halus. Penampakannya bersih dan cantik. Sungguh bertolak belakang dengan kisah hidupnya. Fran tewas saat bercinta dengan 2 pria yang membayarnya untuk "bermain" selama 10 jam non stop. Tidak perlu dibayangkan bagaimana prosesnya yang jelas itu mengerikan.
Fran sampai saat ini tidak mengerti kenapa dirinya masih bergentayangan di dunia ini. Kalau ditanya urusan ia sendiri tidak tahu urusan apa yang belum diselesaikan olehnya. Keluarganya pun sepertinya sudah melupakan dia. Wajar saja, Fran sudah dijual sejak usia 4 tahun. Hmm, ya walaupun sering muncul, setidaknya Fran tidak pernah mengejutkanku. Biasanya ia memanggil dulu dan kalau aku mengangguk barulah dia muncul. Biasanya di kursi sebelah kanan yang ada di depan kasur kamarku.
Mau bertemu? Entahlah, dia tidak pernah memberitahukan caranya. Coba saja panggil saat di kasur, kalau Anda beruntung mungkin ia datang.
Langganan:
Postingan (Atom)
