Rabu, 30 Desember 2009

Si Pahit Peningkat Adrenalin


 

Dia selalu ada di sini menemani pagiku, di sampingku saat aku gundah, bisa mencairkan suasana yang beku, membuat hati ini nyaman, dan dia adalah secangkir kopi yang selalu setia menemani hari ini dan esok hari nanti.

Kopi itu tergeletak di atas meja. Ketika dibuka, aroma semerbak langsung tercium dan menusuk hidung. Ditaburkan secara perlahan ke dalam cangkir. Tiap bubuk yang memenuhi bagian bawah cangkir tersebut begitu menggoda lidah.

Air panas yang telah disiapkan sebelumnya dalam sebuah teko bisa segera dituangkan ke dalam cangkir berisi bubuk kopi tersebut. Tiap tetes yang mengenai bubuk kopi menyemburkan asap yang tercampur dengan aroma kopi yang wangi dan membuat adrenalin meningkat sesaat. Air yang awalnya bening tersebut secara perlahan-lahan berubah menjadi hitam kecokelatan karena ada campuran susu dalam bubuk kopi tersebut. Ampasnya tampak terlihat  berputar-putar di atas permukaan air yang bergelombang akibat tuangan air yang panas.

Setelah cangkir terisi penuh, maka segera diaduk dengan menggunakan sendok. Setelah dirasa cukup, ambil cangkir tersebut dan hiruplah wangi kopi yang sudah selesai tahap pembuatannya. Dalam keadaan panas, tegukan pertama adalah gerbang awal yang membawa kita pada kenikmatan-kenikmatan berikutnya. Rasa panas yang muncul di ujung lidah yang berlanjut hingga ke dalam kerongkongan adalah sensasi awal yang sulit untuk diungkapkan dengan kata-kata.

Sambil menunggu kopi yang masih panas, kenikmatan akan semakin terasa jika dilengkapi dengan sepotong roti, hisapan sebatang rokok, dan juga ditemani semilir angin yang masuk lewat jendela yang terbuka.

Kopi panas yang tersaji dalam cangkir cantik beralaskan tatakan bermotif bunga yang terbuat dari keramik cina. Tatakan, selain berfungsi sebagai alas gelas, juga sebagai tempat meminum kopinya jika terlalu panas.

Semakin lama didiamkan, panas dari kopi akan semakin hilang dan perlahan akan menjadi dingin. Jika kopi dibiarkan dingin, maka efek dari kopi yang bisa membuat tubuh menjadi lebih segar tersebut bisa hilang. Oleh karena itu, untuk menjaga suhu agar tetap panas, cangkir berisi kopi tersebut sebaiknya ditutup bagian atasnya. Aroma kopi yang istimewa selalu menggoda. Dengan citarasa tinggi yang menggugah selera, membuat kopi selalu menjadi sahabat sejati dikala melakoni segala rutinitas.

Kopi dapat menambah suasana hangat kebersamaan saat berkumpul bersama teman – teman. Kendati kopi itu adalah minuman yang memiliki rasa yang sebenarnya pahit, namun ia bisa menyatu dengan manisnya gula atau bahkan susu. Kopi hitam, kopi susu, ataupun kopi tubruk yang selalu digemari oleh semua kalangan, baik dari kalangan bawah hingga kalangan elit, sehingga kopi melambangkan kesetaraan bagi setiap masyarakat.

Tidak selamanya kopi itu jahat. Di dalam secangkir kopi terdapat manfaat baik. Kafein yang terdapat dalam kopi membantu meningkatkan metabolisme tubuh sehingga dapat membakar lebih banyak. Selain itu, minuman ini juga ternyata dapat mengurangi nafsu makan sampai 35 persen dan membuat orang jadi semangat berolahraga. Namun, konsumsi kopi sebaiknya tidak lebih dari dua cangkir setiap hari karena kandungan kafeinnya dapat meningkatkan denyut jantung dua kali lipat. Sebaiknya minum kopi pahit karena yang berbahaya justru gula yang biasanya menemani kopi.

Banyak sekali manfaat kopi bagi tubuh kita, beberapa penelitian telah menunjukan, bahwa kopi mempunyai manfaat bagi kesehatan tubuh kita, diantaranya menangkal rasa kantuk, menambah kecepatan berpikir, menambah kesegaran badan karena efek dari kafein. Jika mengonsumsi kopi secara berlebihan efek negatifnya yaitu insomia, cemas, gelisah dan diare. Hal itu dikarenakan efek kafein yang terlalu tinggi.

Secangkir kopi kental yang selalu memberikan ketenangan, kedamaian, dan selalu membuat tersenyum setiap pagi. Makna dari secangkir kopi itu adalah sesempurna apapun kopi yang dibuat, kopi tetaplah kopi, punya sisi pahit yang tak mungkin dapat disembunyikan.

Minggu, 13 Desember 2009

Kondisi Suku Dayak Di Tengah Arus Globalisasi


            Era Globalisasi jika diibaratkan adalah sebuah kutukan yang akan melanda semua negara, bangsa, ras, suku, bahkan agama sekalipun. Efeknya sangat kuat seiring berjalannya waktu karena adanya pengaruh lewat budaya melalui anggapan bahwa bangsa yang lebih maju itu dapat mempengaruhi bangsa terbelakang atau berkembang. Selain politik dan ekonomi yang paling terpengaruh adalah budaya. Budaya yang terus dipertahankan oleh beragam suku di tiap negara agar terjaga keindahan dan keaslian warisan nenek moyang tersebut perlahan-lahan bisa saja terkikis akibat arus globalisasi tersebut. Bagaimana dengan suku Dayak.

            Suku Dayak adalah suku asli Kalimantan yang hidup berkelompok yang tinggal di pedalaman, di gunung, dan sebagainya. Kata Dayak itu sendiri sebenarnya diberikan oleh orang-orang Melayu yang datang ke Kalimantan. Orang-orang Dayak sendiri sebenarnya keberatan memakai nama Dayak, sebab lebih diartikan agak negatif. Padahal, semboyan orang Dayak adalah “Menteng Ueh Mamut”, yang berarti seseorang yang memiliki kekuatan gagah berani, serta tidak kenal menyerah atau pantang mundur.

            Suku Dayak merupakan suatu suku yang besar dan mempunyai kelompok suku yang sangat banyak dengan budaya yang beranekaragam, masyarakat suku Dayak hidup dan berkembang di wilayah pedalaman Kalimantan. Suku Dayak memiliki beberapa sub suku bangsa namun perbedaan kebudayaan yang ada relatif kecil, hal ini disebabkan mereka berasal dari garis keturunan yang sama.

            Dahulu, benua Asia dan pulau Kalimantan yang merupakan bagian nusantara yang masih menyatu, yang memungkinkan ras mongoloid dari asia mengembara melalui daratan dan sampai di Kalimantan dengan melintasi pegunungan yang sekarang disebut pegunungan “Muller-Schwaner”. Suku Dayak merupakan penduduk Kalimantan yang sejati. Namun setelah orang-orang Melayu dari Sumatra dan Semenanjung Malaka datang, mereka makin lama makin mundur ke dalam.

Belum lagi kedatangan orang-orang Bugis, Makasar, dan Jawa pada masa kejayaan Kerajaan Majapahit. Suku Dayak hidup terpencar-pencar di seluruh wilayah Kalimantan dalam rentang waktu yang lama, mereka harus menyebar menelusuri sungai-sungai hingga ke hilir dan kemudian mendiami pesisir pulau Kalimantan. Suku ini terdiri atas beberapa suku yang masing-masing memiliki sifat dan perilaku berbeda.

            Setelah itu muncul juga pengaruh islam yang berasal dari kerajaan Demak seiring dengan makin luasnya perdagangan dengan bangsa melayu sehingga Kalimantan secara teritori masuk di dalam arus perdagangan itu sendiri. Maka sedikit terjadi perubahan sosial seiring dengan sebagian besar suku Dayak memeluk Islam dan tidak lagi mengakui dirinya sebagai orang Dayak, tapi menyebut dirinya sebagai orang Melayu atau orang Banjar. Sedangkan orang Dayak yang menolak agama Islam kembali menyusuri sungai, masuk ke pedalaman di Kalimantan Tengah, bermukim di daerah-daerah Kayu Tangi, Amuntai, Margasari, Watang Amandit, Labuan Lawas dan Watang Balangan. Sebagian lagi terus terdesak masuk rimba.  Belum lagi kedatangan bangsa Tionghoa yang  bermaksud untuk berdagang dan berburu emas ini pun memiliki pengaruh meskipun tidak terlalu besar. 

Dalam perspektif sosiologis, suku Dayak terbagi menjadi tiga bagian berkaitan dengan pewarisan budaya yang dimilikinya. Bagian pertama, kelompok masyarakat suku Dayak yang bermukim di pedalaman, di kampung-kampung yang mungkin masih tersisa kemurnian kebudayaannya adalah bagian masyarakat yang bertahan dengan pola budaya tolong-menolong, solider, dan loyal dengan ikatan komunalnya. Bagian ini masih mewarisi budaya leluhur dan menganggap bahwa kebudayaan merupakan bagian dari pembangunan kemanusiaan (human development). Bagian ini sudah terserap modernisasi tetapi masih kuat bertahan dengan kearifan tradisionalnya;

Bagian kedua, adalah bagian tengah yakni bagian masyarakat yang sedang-sedang saja, artinya masih tetap bertahan dengan sebagian dari kebudayaannya namun juga sudah mulai menyerap unsur-unsur modernisasi. Bagian ini merupakan bagian yang cenderung ambil posisi aman saja, cenderung pasrah dan acuh terhadap pewarisan budayanya kepada generasi setelahnya. Bagi mereka, budaya adalah budaya, ia akan mengalami seleksi alamiah, tidak ada kewajiban yang mengharuskan untuk mewariskannya;

Bagian ketiga adalah bagian dari pucuk piramida, kaum elite dan intelektual dan berwawasan luas, menguasai teknologi dan ilmu pengetahuan namun hampir sama dengan bagian kedua, yakni mewariskan budaya menjadi bagian yang tidak terlalu penting dan harus di masa kini yang serba canggih. Hanya saja yang membedakannya adalah cara pandang dan keprihatinan mereka dalam melihat eksistensi kebudayaan dan kehidupan di masa yang akan datang. Dalam konstelasi demikian, maka peranan kaum elite dan intelektual merupakan garda depan yang harus menjadi motor penggerak masyarakat bagian tengah untuk tetap mempertahankan kebudayaan dan mereposisi perubahan pola pikir manusia suku Dayak. Perubahan pola pikir tidak harus serta merta menanggalkan kebudayaan, karena kebudayaan merupakan penapis/filter bagi kebudayaan lain yang tidak sesuai dengan kepribadian manusia Dayak. Jika tidak, maka yang terjadi adalah secara eskalatif muncullah gerakan eskapisme terhadap budaya sendiri, lebih bangga dengan kebudayaan lain, yaitu kebudayaan baru sebagai pengabur identitas lama untuk dan atas nama sebuah identitas modern

Di era globalisasi sekarang ini, dimana rujukan modern mengambil Barat sebagai patokan, kompetisi sebagai dasar hubungan dan kekuasaan sebagai orientasi membawa manusia Dayak semakin terasing dari karakternya. Dasar solideritas dipecah dan direkayasa secara historis dan sistematis lewat pelabelan budaya tradisional yang tidak sehat dan tidak modern, sehingga pada kondisi tertentu mendorong mereka tinggal dan membangun rumah tunggal, konsekuensi logis atas ini semua membawa masyarakat Dayak pada ruang individualistis. Penerapan modernisasi ala Barat yang memiliki prasyarat masifikasi individualisme merubah pola pikir dan pola hidup masyarakat Dayak. Dengan hal tersebut semakin membawa manusia Dayak terasing dari solideritas yang pernah menjadi karakternya dahulu.

Dari latar belakang tersebut suku dayak sendiri telah terpengaruh oleh banyak hal akibat ekspansi dari bangsa lain, sehingga Dayak sangat rentan untuk lenyap begitu saja. Meskipun begitu tetap saja masih ada sekelompok orang yang tetap berusaha untuk mempertahankan budaya dayak sejak zaman dulu. Dan hal yang sangat luar biasa adalah kebudayaan tersebut tetap bertahan hingga saat ini. Contoh dari kebudayaan-kebudayaan tersebut adalah upacara Tiwah, Dunia Supranatural, dan Mangkok Merah.

Upacara Tiwah merupakan acara adat suku Dayak. Tiwah merupakan upacara yang dilaksanakan untuk pengantaran tulang orang yang sudah meninggal ke Sandung yang sudah di buat. Sandung adalah tempat yang semacam rumah kecil yang memang dibuat khusus untuk mereka yang sudah meninggal dunia.

Upacara Tiwah bagi Suku Dayak sangatlah sakral, pada acara Tiwah ini sebelum tulang-tulang orang yang sudah mati tersebut di antar dan diletakkan ke tempatnya (sandung), banyak sekali acara-acara ritual, tarian, suara gong maupun hiburan lain. Sampai akhirnya tulang-tulang tersebut di letakkan di tempatnya (Sandung).

Dunia Supranatural bagi Suku Dayak memang sudah sejak jaman dulu merupakan ciri khas kebudayaan Dayak. Karena supranatural ini pula orang luar negeri sana menyebut Dayak sebagai pemakan manusia ( kanibal ). Namun pada kenyataannya Suku Dayak adalah suku yang sangat cinta damai asal mereka tidak di ganggu dan ditindas semena-mena. Kekuatan supranatural Dayak Kalimantan banyak jenisnya, contohnya Manajah Antang. Manajah Antang merupakan cara suku Dayak untuk mencari petunjuk seperti mencari keberadaan musuh yang sulit di temukan dari arwah para leluhur dengan media burung Antang, dimanapun musuh yang di cari pasti akan ditemukan.

Mangkok merah merupakan media persatuan Suku Dayak. Mangkok merah beredar jika orang Dayak merasa kedaulatan mereka dalam bahaya besar. “Panglima” atau sering suku Dayak sebut Pangkalima biasanya mengeluarkan isyarat siaga atau perang berupa mangkok merah yang di edarkan dari kampung ke kampung secara cepat sekali. Dari penampilan sehari-hari banyak orang tidak tahu siapa panglima Dayak itu. Orangnya biasa-biasa saja, hanya saja ia mempunyai kekuatan supranatural yang luar biasa. Percaya atau tidak panglima itu mempunyai ilmu bisa terbang kebal dari apa saja seperti peluru, senjata tajam dan sebagainya.

Mangkok merah tidak sembarangan diedarkan. Sebelum diedarkan sang panglima harus membuat acara adat untuk mengetahui kapan waktu yang tepat untuk memulai perang. Dalam acara adat itu roh para leluhur akan merasuki dalam tubuh pangkalima lalu jika pangkalima tersebut ber “Tariu” ( memanggil roh leluhur untuk untuk meminta bantuan dan menyatakan perang ) maka orang-orang Dayak yang mendengarnya juga akan mempunyai kekuatan seperti panglimanya. Biasanya orang yang jiwanya labil bisa sakit atau gila bila mendengar tariu.

Perubahan kebudayaan berdampak pada perubahan pola hidup dan pola pikir suku Dayak saat ini dan itu berpengaruh pula terhadap keterbukaan dan kebersamaan suku Dayak, pada mulanya mereka belum mengenal sifat yang individualistis sekarang sifat itu mulai ada dalam sikap hidup mereka walaupun tidak sepenuhnya merubah konsep hidup orang Dayak dan itu diakibatkan oleh kemajuan zaman. . Kemajuan zaman juga mempengaruhi kebutuhan hidup suku Dayak dan semua itu memang akibat dari pengaruh globalisasi dan modernisasi.

Meskipun begitu, Konsep hidup suku Dayak keterbukaan dan kebersamaan masih tetap dipegang ditengah modernisasi walaupun dalam perwujudannya yang berbeda. Tidak dipungkiri bahwa kemajuan zaman merubah pola pikir dan hidup suku Dayak. Budaya ini tetap terselamatkan dan akan tetap bertahan berkat para sesepuh yang masih memegang teguh tradisi mereka di tambah dengan anak –anak muda yang mendapat transfer ilmu dari orang tuanya untuk menjaga kelestarian warisan nenek moyang mereka.

 

 

Rabu, 09 Desember 2009

Analisis Novel “BELENGGU” Karya Armijn Pane


Novel Belenggu merupakan salah satu roman klasik yang kemunculannya menimbulkan kegemparan. Bahkan sampai ditolak oleh Balai Pustaka dengan alasan isi ceritanya mengandung banyak kritik sosial dan politik yang bisa memicu konflik dalam masyarakat. 

Armijn Pane selaku penulis buku ini membuat sebuah karya yang mampu membawa pembacanya seolah masuk dalam perasaan emosional para pelakon dalam cerita. Meskipun inti dari cerita ini hanyalah sebuah cinta segitiga, namun di dalamnya ada beberapa konflik kecil yang sebenarnya mengandung makna yang sangat mendalam, terutama bagi negara Indonesia yang saat itu masih dalam suasana pascakemerdekaan.

Penggunaan gaya bahasa kuno dan masih bercampur dengan bahasa Belanda (negara yang kolonialisme di Indonesia) menambah estetika dari novel ini. Maka tak heran banyak perbendaharaan kata yang terdengar asing jika diucapkan saat ini, seperti prognose, rouge, realiteit, dll. Bagi yang tidak memahami kosakata seperti bisa dipastikan akan sulit juga untuk memahami beberapa bagian ceritanya.

Cerita ini memiliki tiga tokoh sentral, yaitu Dokter Sukartono (Tono), Sumartini (Tini), dan Siti Rohayah (Yah). Ketiganya berada dalam konflik cinta segitiga yang rumit yang dibumbui dengan masalah dan rahasia masing-masing yang semakin memperburuk keadaan.

Sukartono adalah seorang dokter yang mempunyai rasa kemanusiaan yang tinggi. Dia terkenal dokter yang dermawan dan penolong. Dia termasuk seorang yang sangat mencintai pekerjaannya. Meskipun begitu Tono tidak pernah benar-benar merasakan cinta dari istrinya selayaknya sebuah keluarga yang harmonis. Kenikmatan hidup yang bersifat privasi justru dia rasakan dari wanita lain yang bukan istrinya. 

Sumartini  perempuan modern yang mempunyai masa lalu yang kelam karena bebas bergaul. Salah satu kisahnya yang memilukan adalah hubungannya yang gagal dengan kekasihnya sebelum menikah dengan Tono.  Dia selalu merasa kesepian karena kesibukan suaminya yang tak kenal waktu dalam mengobati orang sakit sehingga melupakan dan membiarkannya dirumah seorang diri.

Siti Rohayah juga merupakan perempuan yang masa lalunya kelam akibat perceraian, namun, perbedaannya dia tidak seberuntung Sumartini dalam masalah ekonomi dan status sosial. Rohayah menjadi perempuan “malam” dan mempunyai pekerjaan sampingan sebagai penyanyi keroncong dengan nama Siti Hayati.

Beberapa konflik yang muncul bisa menimbulkan opini dalam masyarakat, bahwa apabila sebuah kehidupan rumah tangga yang lahir dibangun dari tiadanya rasa saling cinta antara suami-istri, maka keluarga tersebut tidak harmonis dan bahkan bisa terjadi perceraian. Hal inilah yang ditakutkan dalam kehidupan seseorang, manakala membangun rumah tangga tanpa didasari cinta antara suami isteri.

Dalam novel ini bisa dilihat bahwa hubungan antara Tono dan Tini bukanlah selayaknya pasangan suami istri pada umumnya. Terkesan hanya menjalani sebuah hidup dengan status sosial semata, sementara masalah hati tidak diabaikan dalam bahtera rumah tangga mereka. Sehingga Tono pun lari dalam pelukan Rohayah.

Novel ini juga mengandung kritik sosial kepada para perempuan yang masih saja memandang seseorang hanya dari status sosialnya, seperti sikap Tini saat bertemu dengan Rohayah. Selain itu sindiran juga terlihat pada bagian Tini yang sedang digosipkan oleh teman-teman wanitanya. Seolah ingin menunjukan bahwa masih banyak wanita yang hobi bergunjing.

Keunikan dari novel ini adalah adanya kritik tentang keadaan politik beberapa tahun sebelumnya. Contohnya seperti awal berdirinya Boedi Oetomo yang para anggotanya berasal dari kalangan ningrat dari suku Jawa. Secara gamblang, Armijn Pane melancarkan kritik bahwa tujuan Boedi Oetomo ketika itu bukanlah kemerdekaan secara menyeluruh, tetapi  menjaga agar budaya Jawa tidak dipengaruhi oleh budaya Belanda. Maka  secara tersirat Armijn Pane tidak menyetujui bahwa Boedi Oetomo disebut sebagai tonggak kebangkitan bangsa.

Selain itu, ada juga gambaran bahwa orang yang berjuang demi kepentingan bangsa justru tidak dianggap sebagai suatu pekerjaan yang mulia. Tetapi justru dianggap menyusahkan dan tidak berguna selama tidak menghasilkan uang. Seperti pada tokoh Hartono yang sebenarnya bukan tokoh sentral, tetapi kisahnya mengandung sebuah makna yang mendalam. Hartono yang rela meninggalkan kuliah dan kekasihnya demi perjuangannya bersama tokoh revolusioner Ir. Soekarno dan mengabdi pada bangsa justru mengalami banyak cacian dari orang-orang di sekelilingnya karena dianggap tidak menguntungkan. Karena pandangan seseorang yang sukses hanya dilihat dari materi semata.

Novel Belenggu menyimpan banyak makna yang mendalam di setiap konflik yang dimuculkan. Kritik sosial yang tajam dalam kisah ini bisa menjadi sebuah pembelajaran bagi para generasi muda dalam menjalani kehidupan yang terhegemoni oleh sebuah sistem yang menindas. Dan semua itu berlaku terhadap semua orang, baik itu tua-muda, kaya-miskin, dan juga pria-wanita.

 

 

 

 

 

virus Indonesia


            Sebuah ironi yang tragis dan menyakitkan jika kita melihat kondisi Indonesia saat ini. Indonesia yang sejatinya merupakan Negara kepulauan dengan potensi sumber daya alam yang besar serta lautan yang sangat luas sehingga disebut juga Negara maritim, sangat kontradiktif dengan fakta yang ada saat ini, yaitu sebagian penduduknya hidup di bawah garis kemiskinan. Memang tidak pernah habis pikir, sebuah Negara yang “kaya” justru tidak bisa menyejahterakan rakyatnya sendiri, padahal di sisi lain sumber daya alam kita bisa membawa keuntungan yang besar bagi Negara lain.

            Sejak dulu hingga saat ini, Indonesia merupakan salah satu target dari Negara-negara imperialis(seperti: Portugis, Spanyol, Belanda, dan Inggris) sebagai rempat pengerukkan sumber daya yang tidak ada di Eropa. Sebagaimana tercatat dalam sejarah, Indonesia menjadi Negara terjajah dan rakyatnya ikut menanngung beban menjadi kuli paksa, sementara hasil dari Indonesia dibawa oleh penjajah dan rakyat hanya mendapat sedikit royalti bahkan tidak dibayar sama sekali.

            Bagaimana keadaan Indonesia saat ini? Sejujurnya tidak jauh berbeda dengan yang dulu, hanya saja Indonesia saat ini memiliki embel-embel mereka dan rakyatnya banyak yang lebih berpendidikan. Namun ternyata penjajahan belum berakhir, karena beberapa pihak asing yang menancapkan pengaruhnya di beberapa daerah, mengambil sumber daya alam, dan mengambil buruh – buruh dengan bayaran yang murah untuk memproduksi sesuatu dengan harga tinggi.

            Masih segar dalam ingatan kita bagaimana pemerintah membagikan bantuan langsung tunai atau biasa disingkat BLT pada rakyat miskin untuk membantu meringankan bebabn bagi rakyat yang paling terkena dampak akibat naiknya bahan bakar minyak. Tentu sebagian rakyat tidak tahu bahwa kenaikan harga BBM tersebut tidak perlu naik terus menerus jika

            Akibat dari pengaruh-pengaruh asing tersebut, Indonesia seolah-olah memiliki kebun, namun buah dari kebun tersebut tidak bisa dinikmati sendiri. Rakyat pun tidak bisa sejahtera dengan sumber daya alam sendiri seperti yang dijelaskan dalam pasal 33. Kemudian jika sumber daya alam di Indonesia sudah habis, masyarakat Indonesia di masa itu tidak memiliki bahan untuk diolah sendiri, dan otomatis harus ikut dalam pengolahan asing yang sangat jelas tidak akan membawa keuntungan secara bagi Indonesia.